Kisah Menyentuh: Taubat Seorang Lelaki yang Hidup dalam Kemaksiatan
Di sebuah sudut desa, seorang lelaki ditemukan terbujur kaku tanpa nyawa. Tubuhnya tergeletak di area pembuangan sampah, tanpa kain kafan, tanpa air untuk mensucikannya, dan tanpa tangan yang mau mengurus jenazahnya. Ia meninggal dalam hinaan, dicaci oleh tetangga yang telah lama muak dengan perilakunya.
Semasa hidup, lelaki itu dikenal sebagai ahli maksiat. Dosa seolah menjadi temannya, dan masyarakat menjauhkan diri darinya. Ketika ajal tiba, tak seorang pun peduli. Penduduk kampung menyeret tubuhnya ke tempat sampah, seakan ia tidak layak mendapatkan perlakuan sebagai manusia.
Perintah Allah kepada Nabi Musa
Pada saat itulah, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa, salah seorang kekasih-Ku telah wafat. Ia terbaring di tempat pembuangan sampah, tidak ada yang memandikan, mengafani, menyalatkan, ataupun menguburkannya. Pergilah, muliakan ia, mandikan, kafani, salatkan, dan kuburkan dengan penuh kehormatan.”
Nabi Musa terkejut. Kekasih Allah? Padahal seluruh penduduk mengenalnya sebagai orang yang fasik. Namun beliau tetap melangkah menuju kampung itu.
Sesampainya di sana, penduduk menolak dengan keras. “Wahai Musa, ia ahli maksiat! Ia pemabuk, fasik, kotor! Tidak pantas dimuliakan!” Hati Nabi Musa pun diliputi kegundahan. Beliau menengadahkan wajah ke langit dan bermunajat lirih, “Ya Rabb, Engkau memerintahkanku menguburkannya, sementara semua orang mengetahui keburukannya. Mengapa Engkau menyebutnya kekasih-Mu?”
Rahasia Taubat yang Menggetarkan Langit
Allah lalu menjawab dengan kelembutan namun penuh ketegasan: “Benar, wahai Musa. Ia hidup dalam dosa. Namun menjelang kematiannya, ia kembali kepada-Ku dengan penuh tangisan dan penyesalan. Doanya memecah langit hingga Aku malu untuk menolaknya. Ia menutup hidupnya dengan hati yang luluh.”
Ternyata, di hari-hari terakhirnya, saat sakit menggerogoti tubuhnya, lelaki itu bersujud sendirian di kamar yang sempit. Air matanya membasahi tanah, bibirnya bergetar penuh penyesalan.
Dalam munajatnya, ia memohon ampun dengan tiga doa yang mengguncang Arsy:
- Doa pertama: Ia mengakui kelemahan dirinya. “Ya Allah, Engkau melihat semua maksiatku. Aku membencinya, tapi aku diperdaya hawa nafsu, teman yang buruk, dan tipu daya setan. Ampunilah aku.”
- Doa kedua: Ia mengadu tentang lingkungan yang buruk. “Ya Allah, meski aku hidup di tengah orang fasik, hatiku tenang berada di dekat orang-orang saleh. Aku menyukai mereka lebih dari para pendosa.”
- Doa ketiga: Doa yang membuat para malaikat bersaksi atas penyesalannya. “Ya Allah… jika Engkau mengampuniku, para wali dan nabi-Mu akan bahagia, sedangkan setan-setan akan bersedih. Engkau lebih suka melihat kekasih-Mu bersuka cita daripada melihat musuh-Mu tertawa. Maka ampunilah aku.”
Tangis itu tidak terdengar manusia, tetapi menembus langit. Malaikat menjadi saksi, bumi pun menjadi saksi bahwa seorang hamba yang bergelimang dosa kini kembali dengan hati yang hancur.
Akhir yang Indah: Husnul Khatimah
Allah Yang Maha Lembut menerima taubatnya, menghapus dosa-dosanya, menutupi aibnya, dan menganugerahkan kepadanya husnul khatimah—akhir kehidupan yang baik. Sebuah bukti bahwa pintu ampunan Allah tak pernah tertutup bagi siapa pun yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Sumber kisah: Kitab Ushfuriyah, karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri.

Posting Komentar